Perjalanan hidup Budiman Sihombing tidak dibangun dari kemewahan, melainkan dari kerja keras sejak kecil di kebun sawit milik orang tuanya di Sumatra Utara. Dari tanah perkebunan itulah tumbuh kecintaan pada dunia menulis yang kemudian membawanya dikenal sebagai penulis rubrik kemasyarakatan.
Budiman Sihombing, kini dikenal di kalangan jurnalis dan penulis rubrik kemasyarakatan. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema sosial, budaya, hingga etika kehidupan nusantara dengan gaya yang sederhana namun menyentuh.
Budiman Sihombing lahir dan besar di Sumatra Utara. Sejak kecil ia sudah akrab dengan kerja keras di kebun sawit milik orang tuanya. Aktivitas membantu pekerjaan keluarga menjadi bagian dari kesehariannya.
Meski terbiasa dengan kehidupan lapangan yang keras, ada satu hal yang selalu ia pelihara sejak muda: kegemaran menulis.
Bagi Budiman Sihombing, menulis bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Ia menjadikannya ruang untuk menumpahkan gagasan, pengamatan, hingga renungan tentang kehidupan sosial masyarakat.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Budiman Sihombing sempat menekuni dunia usaha. Ia membangun bisnis jasa pengiriman paket yang melayani pengiriman antar provinsi. Usaha itu sempat berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Namun badai datang pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Banyak sektor usaha terpuruk, termasuk bisnis jasa pengiriman yang ia jalankan.
Situasi tersebut memaksanya memutar arah.
Di tengah masa sulit itu, Budiman Sihombing memutuskan merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia kembali menapaki jalan yang sejak lama ia cintai: dunia tulisan dan jurnalistik.
Dengan keuletan dan kemampuan bergaul yang luas, Budiman Sihombing mulai berinteraksi dengan para jurnalis. Perlahan ia masuk ke lingkungan organisasi media hingga akhirnya aktif di berbagai kegiatan jurnalistik tingkat nasional.
Dari situlah karya-karyanya mulai dikenal. Tulisan yang ia buat banyak mengangkat isu kemasyarakatan, nilai budaya, serta etika kehidupan yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
Bagi Budiman Sihombing, menulis bukan sekadar profesi, tetapi juga jalan untuk menyuarakan pemikiran.
Dalam catatan hariannya, ia pernah menulis pesan sederhana tentang makna menulis.
“ Menulis bukan sekadar hobi, namun tulisan bisa menyampaikan isi hati, isi hayalan, isi aspirasi dan harapan masa depan,” tulisnya.
Kini langkah Budiman Sihombing terus berjalan. Dari anak kebun sawit di Sumatra Utara hingga dikenal di lingkungan organisasi media nasional, perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa ketekunan, jaringan pergaulan, dan kecintaan pada menulis dapat membuka jalan yang tak pernah diduga sebelumnya.
(Sumber: Catatan Kopi Kang Aden☕)






