JAKARTA — Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPC Jakarta Timur menaruh perhatian pada keberlanjutan pendidikan anak-anak yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bersama para donatur dan masyarakat, GPIB DPC Jakarta Timur menggalang bantuan berupa kebutuhan pokok, air mineral, pakaian, hingga pakaian sekolah baru. Bantuan tersebut kemudian disalurkan melalui Post Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Bantuan diterima oleh Ibu Winda, Koordinator BNPB Bantuan Gempa Bumi NTT. Penyaluran ini menjadi bagian dari kepedulian masyarakat Jakarta terhadap warga NTT yang tengah menjalani masa pemulihan pascabencana.
Ketua GPIB DPC Jakarta Timur, Bapak Mohamad Amin, mengatakan perhatian terhadap anak-anak menjadi salah satu alasan GPIB ikut bergerak.
Menurut Bapak Amin, bencana tidak boleh membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
“Bangunan boleh runtuh, namun mental mereka jangan sampai runtuh. Itulah motivasi GPIB, supaya mereka bersekolah lagi,” ujar Bapak Amin.
Ia mengatakan GPIB akan terus berusaha mengajak masyarakat maupun para pengusaha untuk bersama-sama membantu penyintas.
“Kami bersama beberapa pengusaha maupun masyarakat tidak akan tinggal diam. Kepedulian sosial ini memang dibangun dari GPIB,” katanya.
Bantuan yang dihimpun berasal dari sejumlah donatur. Bapak Finawan Ateng memberikan 480 pcs sari kacang hijau dan 200 pcs celana dalam baru.
Bapak Kiki Irawan menyumbangkan 14 dus mie instan, sedangkan Bapak Sosidjono memberikan tujuh dus mie instan.
Sementara Bapak David menyumbangkan 12 dus air mineral. Masyarakat turut berpartisipasi dengan memberikan 50 set pakaian sekolah baru untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA.
Bantuan tersebut mendapat apresiasi dari Ibu Winda. Menurutnya, bantuan dari berbagai pihak sangat berarti bagi penyintas yang masih berada dalam masa transisi darurat.
“Alhamdulillah kami sudah terima dengan baik dan semoga bisa meringankan saudara-saudara kita yang ada di NTT. Kami sangat mengapresiasi dan bersyukur atas kepedulian dari teman-teman GPIB,” ujar Ibu Winda.
Ibu Winda mengatakan kebutuhan penyintas tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pokok. Anak-anak juga membutuhkan berbagai perlengkapan untuk menunjang kegiatan belajar.
“Beberapa kebutuhan mendesak seperti pakaian anak sekolah, alat tulis, dan buku bacaan. Itu memang kami perlukan di masa-masa transisi darurat seperti ini,” katanya.
Ibu Winda berharap kepedulian dari masyarakat terus berlanjut sehingga kebutuhan para penyintas dapat dipenuhi secara bertahap.
Penyaluran bantuan turut dihadiri Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Bapak Edy Dwiyanto, S.E., Ketua GPIB DPC Jakarta Timur Bapak Mohamad Amin, serta pengurus DPC GPIB Jakarta Timur, Ibu Monfris bagian Kelembagaan dan Ibu Sri Rejeki selaku Bendahara.
GPIB DPC Jakarta Timur menilai perhatian terhadap pendidikan harus berjalan beriringan dengan penanganan kebutuhan dasar. Sebab, anak-anak merupakan kelompok yang harus dipastikan tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan belajar meski berada dalam situasi pascabencana.
Bapak Amin menegaskan gerakan sosial tersebut akan terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak.
Pesannya jelas: gempa boleh menghancurkan bangunan, tetapi masa depan dan semangat belajar anak-anak NTT tidak boleh ikut hancur.


















