Kameranews.com // Medan
Di tengah derasnya arus informasi yang tak lagi terbendung, sebuah pesan penuh makna dan ketegasan disampaikan Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan. Dalam silaturahmi bersama insan pers, ia mengingatkan bahwa di balik setiap berita yang tersaji, ada tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan.
Pertemuan yang berlangsung Rabu (1/4/2026) pukul 11.00 WIB di ruang kerja Kabid Humas Polda Sumut itu bukan sekadar ajang temu biasa. Dalam suasana yang hangat, terselip kegelisahan tentang kondisi dunia jurnalistik hari ini—tentang kebenaran yang mulai diuji, dan kepercayaan publik yang perlahan dipertaruhkan.
Dengan nada tegas namun sarat makna, Kombes Ferry menyampaikan bahwa profesi wartawan adalah amanah yang harus dijaga dengan hati dan nurani.
“Wartawan ya wartawan, LSM ya LSM. Jangan dicampuradukkan. Setiap profesi punya fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Kalau keluar dari koridor, itu bukan lagi jurnalisme yang benar,” ucapnya, mengingatkan.
Lebih dari sekadar aturan, etika jurnalistik adalah fondasi kepercayaan. Ia menekankan bahwa setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus lahir dari kejujuran, akurasi, dan keberimbangan—bukan dari kepentingan tersembunyi.
“Kalau kepercayaan publik rusak, bukan hanya media yang kehilangan arah, tapi masyarakat juga kehilangan pegangan,” lanjutnya.
Di tengah maraknya hoaks dan informasi yang kerap menyesatkan, peran wartawan menjadi semakin penting—bukan hanya sebagai penyampai berita, tetapi sebagai penjaga kebenaran di tengah kebisingan informasi.
Kombes Ferry pun mengajak seluruh insan pers untuk kembali pada nilai-nilai dasar jurnalistik dan berpegang teguh pada pedoman yang telah ditetapkan oleh Dewan Pers.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Pimpinan Umum Media Group, Budiman Sihombing, bersama Budiman Manik. Dalam kesempatan itu, Budiman Sihombing menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
“Media bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga harapan publik akan kebenaran. Ketika etika dijaga, kepercayaan akan tetap hidup,” ujarnya.
Silaturahmi ini menjadi pengingat yang menyentuh: bahwa di balik profesi wartawan, ada tanggung jawab besar untuk menjaga harapan masyarakat akan informasi yang jujur dan dapat dipercaya.
Di tengah zaman yang terus berubah, satu hal tetap harus dijaga—integritas.
Karena pada akhirnya, wartawan bukan sekadar penulis berita, melainkan penjaga kebenaran bagi masyarakat.
(Red/)


















